Penulis : Vitasari (Jurnalis Muda SMANUnews)
Sebuah Opini
SMANUnews, Setiap awal tahun ajaran baru, siswa SMANU Centini Laren Lamongan selalu dihadapkan pada satu pertanyaan klasik: “Kamu ambil double track apa?” Ada tata boga, tata busana, TKR, desain grafis, kelistrikan,KIR dan satu lagi… jurnalistik. Uniknya, dari semua pilihan itu, jurnalistik hampir selalu jadi anak tiri. Kursinya paling sepi, peminatnya paling sedikit. Padahal kalau ditarik mundur, dunia sekarang butuh orang yang bisa menulis, bertanya, dan berpikir kritis. Lalu, masalahnya di mana? Apa jurnalistik memang tidak menarik, atau kita yang belum paham manfaatnya?
Mengapa Siswa Menghindari ?
Kalau ditanya langsung, jawabannya akan muter-muter. “Ikut teman aja”, “Aku lebih jago gambar biar ambil tata busana”, “Aku pengen bisa servis motor”. Alasan yang terdengar logis. Tapi jujur saja, ada satu alasan yang jarang diucapkan: ogah mikir. Double track selain jurnalistik hasilnya langsung kelihatan. Bikin kue jadi, jahit baju jadi, rakit komputer nyala. Kepuasan instan. Sementara jurnalistik? Hasilnya tulisan. Gagasan. Pertanyaan. Butuh baca, butuh riset, butuh berani wawancara orang. Bagi sebagian siswa, itu terasa “ribet”. Padahal justru di situlah latihannya. Jadi pertanyaannya: kita memilih karena passion, atau karena cari yang paling gampang?
Jurnalistik Sederhanakah ?
Banyak yang mengira jurnalistik = harus jago nulis kayak wartawan Kompas. Padahal tidak. Jurnalistik di double track itu dasarnya sederhana: mengamati, bertanya 5W1H, lalu menuliskan fakta dengan jujur. Yang bikin “sulit” bukan tekniknya, tapi mentalnya. Harus mau turun ke lapangan, harus mau ditolak narasumber, harus mau direvisi tulisannya. Singkatnya, jurnalistik memaksa kita keluar dari zona nyaman. Dan anak SMA seringnya masih nyaman di zona scroll TikTok.
Sebuah Fakta ?
Ini yang menarik. Tahun ajaran 2024/2025 kemarin, semua siswa SMANU yang lolos PTN ternyata punya satu benang merah: mereka pernah ikut atau sedang aktif di double track jurnalistik. Kebetulan? Mungkin.
Tapi bisa jadi bukan kebetulan. Anak jurnalistik terbiasa literasi. Setiap minggu nulis berita, bikin caption, wawancara guru, meliput kegiatan sekolah. Tanpa sadar otak mereka terlatih: membaca cepat, merangkum, berargumen, dan PD saat presentasi. Saat tes PTN datang, yang diuji bukan cuma rumus. Yang diuji kemampuan memahami bacaan, menulis, dan berpikir logis. Nah, itu makanan sehari-hari anak jurnalistik.
Sesulit Itukah Jurnalistik?
Jawabannya: tidak. Yang sulit adalah memulai. Begitu sudah pegang kamera, sudah berani tanya “Pak, boleh wawancara sebentar?”, Lalu ditulis selesai diterbitkan oleh diedit oleh editor diterbitkan. Satu kebanggan bila dibaca satu sekolah ? bahkan ribuan orang ?
Jurnalistik mengajari kita bahwa setiap orang punya cerita, dan setiap cerita layak didengar. Itu pelajaran hidup, bukan cuma pelajaran sekolah.
Manfaat dan Kelebihan Double Track Jurnalistik
Kalau mau jujur, ini 3 keuntungan yang tidak kamu dapat di double track lain:
Pertama : Skill abad 21: Berpikir kritis, komunikasi, dan literasi digital. Mau kuliah jurusan apa pun, ini kepakai.
Kedua : Portofolio: Tulisan dan foto liputanmu bisa jadi bekal daftar beasiswa, lomba, bahkan kerja freelance.
Ketiga : Keberanian: Kamu dilatih bicara di depan umum, wawancara pejabat, dan menulis pendapat. Mentalmu ditempa. Singkatnya, jurnalistik tidak memberi kamu kue, tapi memberi kamu resep untuk mencari rezeki di era informasi.
Perlukah Guru yang Menentukan?
Nah, ini dilema. Kalau diserahkan penuh ke siswa, jurnalistik akan tetap sepi. Kalau dipaksa guru, takutnya anak tidak sungguh-sungguh.
Menurut saya, guru tidak perlu “menentukan”, tapi perlu “mengarahkan”.
Guru BK dan wali kelas bisa memetakan: “Kamu suka nulis, suka nanya, suka kepo… coba deh jurnalistik”. Kasih data juga: “Lho, alumni PTN kemarin kebanyakan dari jurnalistik lho”.
Biarkan siswa memilih, tapi pastikan mereka memilih dengan informasi yang cukup. Jangan sampai nyesel 1 tahun kemudian.
Sebagai penutup tulisan ini bahwa double track jurnalistik tidak sepi karena tidak berguna. Ia sepi karena manfaatnya tidak kelihatan langsung. Padahal di era hoaks dan banjir informasi ini, orang yang bisa membedakan fakta dan opini, yang bisa menulis dengan benar, justru yang paling dicari.
Mungkin sudah saatnya kita berhenti bertanya “jurusan apa yang gampang?” dan mulai bertanya “skill apa yang akan menyelamatkan masa depanku 5 tahun lagi?”
Karena bisa jadi, jawaban dari pertanyaan itu adalah: Jurnalistik.
Bagaimana menurutmu? Tahun depan, berani coba double track jurnalistik?



